Tokoh & Ulama
Mengenal Para Wali Quthub, Mufti, Pengarang Kitab, dan Pejuang Dakwah Keturunan Al-Habsyi
Sayyidina Abu Bakar bin Ali Al-Habsyi
Beliau adalah cicit dari Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'Alawi. Beliau menghabiskan sekitar 20 tahun hidupnya untuk berdakwah, uzlah, dan membimbing masyarakat di wilayah Habasyah (Etiopia/Afrika Timur), menyebarkan cahaya Islam hingga dijuluki "Al-Habsyi" oleh masyarakat Hadramaut saat kembali ke tanah airnya.
Al-Imam Ahmad bin Muhammad (Shahib Syi'ib)
Imam Ahmad bin Muhammad Al-Ashghar bin Alwi bin Abu Bakar Al-Habsyi. Dijuluki "Shahib Syi'ib" karena menetap dan bertafakkur di sebuah lembah subur (syi'ib) di perbukitan Tarim. Seluruh cabang marga Al-Habsyi terkemuka di dunia hari ini bermuara dari putra-putra beliau (Al-Hasan, Hadi, Alwi, Husein, Idrus, Hasyim, dll).
Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi
Ayahanda dari Habib Ali Shahibul Maulid Simtuddurar. Beliau diangkat menjadi Mufti Syafi'iyyah di tanah suci Makkah Al-Mukarramah atas kedalaman ilmunya yang tiada tanding. Menjadi rujukan para ulama dari seluruh dunia Islam termasuk ulama-ulama besar Nusantara tempo dulu.
Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Seiwun)
Wali quthub agung di zamannya. Beliau mengarang kitab maulid monumental "Simtuddurar fi Akhbar Sayyidil Basyar" pada tahun 1327 H yang dibaca di seluruh dunia. Beliau juga mendirikan Ribath Seiwun pada 1296 H, pesantren perintis yang mendidik ribuan juru dakwah yang kemudian bermigrasi membimbing umat di Indonesia, Semenanjung Melayu, dan Afrika.
Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Kwitang)
Tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dakwah Islam di Batavia/Jakarta. Beliau mendirikan Majelis Taklim Kwitang pada 1886 M yang menjadi perintis konsep majelis taklim di Nusantara. Beliau adalah penasihat spiritual Presiden Soekarno, mengesahkan tanggal proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, dan menentukan lambang negara.
Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Ampel Gubah)
Salah satu pilar waliyullah terbesar di tanah Jawa. Beliau hijrah ke Indonesia dan bermukim di Surabaya, mendanai pembangunan puluhan masjid, madrasah, dan menyantuni ribuan anak yatim janda setiap bulan tanpa menampakkan diri. Makamnya di komplek Ampel selalu diziarahi ratusan ribu peziarah setiap haulnya.
Al-Habib Nuh bin Muhammad Al-Habsyi (Singapura)
Merupakan wali paling dimuliakan dalam sejarah peradaban Islam di Singapura. Keturunan dari cabang Al-Habsyi Syabsyabah. Beliau dikenal memiliki banyak karamah yang disaksikan oleh para pedagang Melayu, Arab, India, hingga bangsa kolonial Inggris.
Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (Solo)
Putra tercinta dari pengarang Simtuddurar. Beliau hijrah ke pulau Jawa atas instruksi ayahandanya untuk mengibarkan panji dakwah. Beliau mendirikan Masjid Al-Riyadh di Solo pada tahun 1355 H (1936 M) dan memulai majelis pembacaan Simtuddurar serta tradisi Haul yang kini menjadi haul terbesar di Asia Tenggara.
Al-Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi (Solo)
Cucu dari Shahibul Maulid Simtuddurar. Dikenal dengan senyumnya yang teduh, keramahannya kepada seluruh lapisan masyarakat dari presiden hingga rakyat jelata. Beliau memimpin Masjid Riyadh Solo selama puluhan tahun dan menjadikan Haul Solo magnet kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Al-Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi (Habib Kuncung)
Salah satu waliyullah masyhur di Jakarta yang hidup dengan tingkat spiritualitas tinggi (ahwal majdzub). Beliau dijuluki "Habib Kuncung" karena kerap mengenakan kopiah lancip/kuncung. Makamnya di Rawajati Kalibata menjadi salah satu pusat ziarah utama yang tak pernah sepi 24 jam.