بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
✦

Sejarah & Asal-Usul

Catatan Perjalanan Sejarah, Dakwah, dan Warisan Peradaban Kabilah Al-Habsyi Sepanjang 6 Abad

BAB 1 Abad ke-9 H (1400-an M)

Kisah Sayyidina Abu Bakar bin Ali dan 20 Tahun Dakwah di Habasyah

نشأة اللقب: سياحة الإمام أبي بكر بن علي في أرض الحبشة
Bagaimana seorang keturunan suci dari lembah Hadramaut berhijrah ke benua Afrika dan mewariskan nama marga yang abadi.

Marga Al-Habsyi adalah salah satu cabang paling terhormat dari kabilah Ba'Alawi (keturunan Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi, yang bersambung langsung ke Baginda Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain dan Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra).

Asal usul julukan "Al-Habsyi" bermula dari Sayyidina Abu Bakar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan At-Turabi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'Alawi.

Beliau adalah seorang ulama sufi pengembara (salik) yang memenuhi panggilan batin untuk menyebarkan risalah Islam ke luar Jazirah Arab. Pada masa itu, pesisir Afrika Timur (yang dikenal dalam literatur Arab kuno sebagai Ardhu al-Habasyah, mencakup wilayah Etiopia, Eritrea, dan sekitarnya) adalah kawasan yang sangat menantang.

Imam Abu Bakar bin Ali menyeberangi Laut Merah dan menetap di Habasyah selama kurang lebih dua puluh tahun. Di sana beliau membangun masjid, mengajarkan Al-Qur'an, membina masyarakat lokal dengan keteladanan akhlak, dan menorehkan kedamaian. Ketika beliau memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di kota Tarim, Hadramaut, masyarakat menyambutnya dengan penuh takzim dan menyematkan nisbah kemuliaan: Al-Habsyi (sang pembawa hidayah dari Habasyah).

Hingga wafatnya pada tahun 857 H di kota Tarim, gelar tersebut melekat abadi dan diwariskan dengan penuh kebanggaan oleh seluruh anak keturunan beliau.

Sumber: Kitab Syamsudz Dzahirah & Al-Mu'jam Al-Lathif ↑ Kembali ke atas
BAB 2 Abad ke-11 H (1600-an M)

Lembah Syi'ib dan Munculnya Cabang-Cabang Agung Al-Habsyi

شِعْب الحبشي بتريم: الإمام أحمد صاحب الشِّعْب وتفرع القبيلة
Mengenal sosok sentral Imam Ahmad Shahib Syi'ib yang menyatukan seluruh mata rantai Al-Habsyi modern.

Setelah berlalunya masa Imam Abu Bakar Al-Habsyi, mata rantai silsilah berlanjut melalui putranya, Sayyidina Alwi, lalu ke cucunya Muhammad Al-Ashghar, hingga melahirkan seorang tokoh poros agung bernama Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Ashghar Al-Habsyi, yang lebih masyhur dengan julukan Shahib Syi'ib (صاحب الشِّعْب).

Beliau memilih tempat tinggal di sebuah celah perbukitan yang tenang dan sejuk di pinggiran kota Tarim, yang kemudian dikenal luas sebagai Syi'ib Al-Habsyi. Di lembah inilah beliau menyepi (khalwat), menyusun karya-karya zikir dan munajat, serta mendidik putra-putranya dalam tradisi keilmuan yang sangat ketat.

Imam Ahmad Shahib Syi'ib wafat pada tahun 1038 H dan dimakamkan di lembah tersebut. Yang membuat posisi beliau sangat istimewa adalah kenyataan nasab: hampir seluruh keluarga besar Al-Habsyi yang ada di dunia saat ini bersambung melalui putra-putra beliau. Dari putra-putra inilah lahir cabang Al-Syabsyabah (Habib Nuh Singapura & Habib Kwitang Jakarta), cabang Seiwun & Solo (Habib Ali Shahibul Simtuddurar), cabang Ampel Gubah Surabaya (Habib Muhammad bin Idrus), serta cabang Al-Rausyan.

Sumber: Kitab Syamsudz Dzahirah & Al-Mu'jam Al-Lathif ↑ Kembali ke atas
BAB 3 Abad ke-18 hingga 20 M

Gelombang Hijrah ke Samudra Hindia: Dari Tarim ke Nusantara

الهجرة المباركة عبر المحيط الهندي إلى بلاد الملايو وإندونيسيا
Jejak perahu layar para Habaib Al-Habsyi menyeberangi Samudera Hindia membawa kedamaian dan perniagaan berakhlak.

Sejak abad ke-18 dan ke-19 Masehi, terbukanya jalur maritim Samudra Hindia memicu gelombang hijrah dakwah para ulama Hadramaut ke Asia Tenggara. Tokoh-tokoh Al-Habsyi tiba di pelabuhan-pelabuhan strategis seperti Aceh, Palembang, Batavia (Jakarta), Semarang, Surabaya, Pontianak, Banjarmasin, hingga Semenanjung Melayu dan Singapura.

Karakteristik dakwah marga Al-Habsyi di Nusantara dikenal sangat santun, menyatu dengan budaya lokal tanpa mengorbankan syariat, mendirikan lembaga pendidikan, serta aktif dalam perniagaan yang jujur. Salah satu pelopor paling awal di Selat Malaka adalah Habib Nuh bin Muhammad Al-Habsyi (wafat 1866 di Singapura), yang menjadi tumpuan masyarakat multietnis dari pelaut, buruh, hingga bangsawan.

Di tanah Batavia, hadir Habib Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi (Habib Cikini) dan putranya yang melegenda, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Kwitang). Sementara di Jawa Timur, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi menegakkan benteng kedermawanan dan pendidikan di Surabaya.

Sumber: Kitab Syamsudz Dzahirah & Al-Mu'jam Al-Lathif ↑ Kembali ke atas
BAB 4 1327 H (1909 M) hingga Kini

Kisah Penyusunan Simtuddurar dan Fenomena Haul Akbar Solo

قصة تدوين مولد سمط الدرر وظاهرة الحول السنوي العظيم بسولو
Mahakarya sastra cinta Rasulullah SAW yang merajut persaudaraan jutaan umat setiap tahunnya di Masjid Riyadh Solo.

Pada hari Kamis, 26 Shafar 1327 H, di kota Seiwun, Hadramaut, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi mendiktekan paragraf-paragraf awal dari sebuah kitab maulid yang kelak menggetarkan dunia: Simtuddurar fi Akhbar Sayyidil Basyar (Untaian Mutiara Kisah Manusia Pilihan).

Kitab ini ditulis dengan keindahan sastra Arab tingkat tinggi, penuh dengan getaran mahabbah (cinta mendalam) kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Habib Ali berujar: "Maulid ini akan menyebar ke seluruh penjuru bumi dan dibaca di timur dan barat."

Nubuat tersebut menjadi kenyataan. Putra beliau, Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, membawa naskah ini ke Indonesia dan mendirikan Masjid Riyadh di Pasar Kliwon, Solo pada tahun 1936. Sejak saat itu, tradisi pembacaan Simtuddurar dan peringatan Haul Habib Ali Al-Habsyi di Solo berkembang menjadi pertemuan keagamaan terbesar di Indonesia, dihadiri jutaan jamaah dari mancanegara.

Sumber: Kitab Syamsudz Dzahirah & Al-Mu'jam Al-Lathif ↑ Kembali ke atas
BAB 5 1940-an M hingga Era Modern

Peran Marga Al-Habsyi dalam Perjuangan Kemerdekaan & NKRI

دور رجالات آل الحبشي في استقلال جمهورية إندونيسيا وبناء الأمة
Kedekatan Habib Ali Kwitang dengan Bung Karno, pengesahan proklamasi kemerdekaan, dan diplomasi kebangsaan.

Keluarga besar Marga Al-Habsyi tidak hanya mengabdikan diri di bilik-bilik pesantren dan masjid, melainkan memegang peranan krusial dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Tokoh sentral dalam sejarah ini adalah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Kwitang). Beliau merupakan penasihat spiritual utama Presiden Soekarno. Sebelum memproklamasikan kemerdekaan pada Jumat, 17 Agustus 1945 (9 Ramadhan 1364 H), Bung Karno secara khusus sowan meminta restu dan penentuan hari baik kepada Habib Ali Kwitang.

Setelah teks proklamasi dibacakan di Pegangsaan Timur 56, Habib Ali Kwitang langsung mengumumkan kemerdekaan Indonesia di hadapan ribuan jamaah Majelis Taklim Kwitang dan memerintahkan seluruh rakyat memasang bendera Merah Putih di rumah masing-masing, sehingga Belanda tidak dapat lagi mengklaim Indonesia masih di bawah kendali mereka. Beliau juga merestui penetapan lambang Garuda Pancasila yang dirancang oleh Sultan Hamid II Al-Qadri.

Sumber: Kitab Syamsudz Dzahirah & Al-Mu'jam Al-Lathif ↑ Kembali ke atas

Dokumentasi Terverifikasi Berdasarkan Kitab Syamsudz Dzahirah & Al-Mu'jam Al-Lathif

Portal resmi preservasi sejarah, nasab, biografi ulama, dan khazanah peninggalan keluarga besar Marga Al-Habsyi se-dunia. Dikelola dengan rujukan kitab-kitab nasab mu'tabar Ba'Alawi.

Layanan Penelusuran & Verifikasi Nasab →